“Lengan
saya boleh dipotong untuk putri kecilku jika itu memang dibutuhkan. Saya tidak
berpikir dua kali saat harus mendonorkan hatiku untuk dia,” Itulah yang
dikatakan Charlotte Rogers, seorang ibu yang memiliki balita dengan kelainan
langka di bagian hatinya. Kisah ini menjadi inspirasi, sekaligus fakta bahwa
cinta ibu tidak akan tergantikan oleh apapun. Demi buah hati, seorang ibu
bahkan rela memberikan nyawanya.
Setiap
orang tua pasti ingin buah hatinya sehat dan bahagia. Demikian halnya dengan
tuan dan nyonya Rogers dari kota Betley, Staffordshire. Mereka memiliki buah
hati perempuan bernama Imogen yang didiagnosis mengalami kondisi atresia
bilier. Kelainan ini sangat langka, Imogen lahir tanpa saluran empedu. Kondisi
tersebut menyebabkan sang bayi tidak bisa mencerna lemak dalam makanan yang
dikonsumsi, sehingga hatinya menjadi sangat tegang dalam kondisi
mengkhawatirkan dan dapat berisiko kematian.
Bayi kecil
ini mendapat diagnosis setahun yang lalu, tepatnya menjelang Natal. Saat itu
Imogen baru dilahirkan, tubuhnya berwarna kuning dan tidak bisa hilang. Bayi
kecil itu harus menjalani beberapa pemeriksaan tes darah dan menjalani operasi.
Keluarga kecil ini terpaksa merayakan Natal di bangsal rumah sakit. Bagi sang
ibu, menyadari buah hati kecilnya harus berhadapan dengan pisau bedah menjadi
momen yang sangat menakutkan. Operasi yang telah berjalan tiga jam gagal,
Imogen tetap dalam kondisi sakit.
Nyawaku Akan Kuberi Untuk Kesembuhan Putriku
Kondisi
Imogen yang belum membaik membuat tuan dan nyonya Rogers mempelajari berbagai
kemungkinan medis, termasuk donor hati. Donor organ tubuh biasanya diambil dari
seseorang yang baru meninggal, karena risikonya cukup besar. Tetapi tidak ada
yang bisa menghentikan langkah nyonya Rogres untuk memberikan sebagian hatinya
untuk sang buah hati. “Saat saya menemukan kesempatan yang masuk akal bagi
kesembuhannya, termasuk transplantasi hati dari orang yang masih hidup, saya
tidak memikirkan hal lain, saya harus memberikan hati saya untuk Imogen,”
ujarnya.
Rangkaian
prosedur tes kesehatan yang panjang dilakukan untuk melakukan operasi
transplantasi hati. Nyonya Rogres mengaku dia sangat takut dengan jarum, tetapi
dia mampu menghadapi rangkaian tes sampel darah. Operasi ini dilakukan 5
September 2012, ketika usia Imogen mencapai 11 bulan. Keduanya menjalani
operasi bersamaan, di rumah sakit yang berbeda selama sembilan jam.
Dalam masa
pemulihan setelah operasi, perlu waktu 6 hari hingga nyonya Rogres bisa melihat
putrinya kembali. Dia melihat perkembangan putrinya dari foto-foto yang diambil
para petugas transplantasi. Yang menakjubkan, Imogen pulih lebih cepat daripada
ibunya. Hal itu membuat nyonya Rogers semakin bersemangat untuk pulih.
Sumber : ceritamotivasiibupenyemangat.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar